Selasa, 25 Maret 2014

Puncak Resah Tertinggi

"Resah itu ketika rindu yang menjalar tapi tak kunjung terucap apalagi terjamah" Untukmu, yang rindunya ku dapati tiap hari.

Berjalan,berlari semua telah kulakuan demi rasa ini

 

Tertatih di tengah keramaian, terdiam di tengah kebingaran

 

Rasa yang seharusnya perlahan sirna, rasa yang seharusnya dimakan waktu

 

Tidakkah hatiku mengerti inginnnya pikiranku

 

Tidakkah kau tau wahai hati, berkali-kali rasamu terabaikan

 

Dinginnya malam, panasnya matahari pun enggan kau hiraukan

 

Berjalan walau tak melihat, merasa walau tak dirasa

 

Semua dilakukan, atas namanya.. namanya yang tak kunjung berbalik arah


 Resah, rangkain huruf yang terdakang melelahkan hati.. Bingung, gundah entah apa yang dimau, perlahan menggerogoti bahagianya hati..
Konyol memang jika diteruskan, tapi rasa ini sungguh nyaman berada di dekatku sekarang, rasa yang selalu mengingatkanku padamu, padamu.. yang pernah selalu dan terus berada entah pada dasar kedalaman hati yang sebagaimana
Tidakkah bulan,bintang bahkan matahari ingin mendengarkannya.. Oh tentu saja tidak, mereka mungkin akan bosan, tentang arah pembicaraanku yang bisa mereka tebak, dia dia dan dia..
Seiring berjalannya waktu semua akan berubah aku hanya tertawa kecil mendengar pernyataan itu, sepertinya terlalu memunafikan rasa yang ada.. 
Seperti apa hal yang selalu ada lalu tidak ada? Seperti menaiki sepeda yang tidak beroda tidak mungkin dijalankan dan tidak akan mungkin seimbang..

 Itu tadi hanya beberapa pilihan kalimat fiksi yang mungkin kebanyakan orang terlalu menutup diri untuk menerjemahkan maknanya, sempat heran sama perempuan.. sedangkan saya juga perempuan, begitu sulit untuk melepas sesuatu yang telah ia genggam, begitu sulit bersikap tak peduli, semua yang mereka kuat-kuatkan selama ini bisa jadi hanya tameng, tameng yang perlahan terkikis oleh kuatnya rasa, terutama rasa yang sering disebut rindu.. Rindu menyenangkan jika tepat, jika ia terbalas, taukah kalian jika rindu hanya di pendam di kubur dalam-dalam seolah-olah rasa itu tidak pernah ada,hanya keresahan yang akan semakin memuncak..
Bertanya-tanya di dalam hati "Lagi ngapain ya?" "Sudah makan belum ya?" Pertanyaan yang lama-lama membunuh logikaku sendiri, pertanyaan yang hanya bisa terjawab oleh desis angin. bullshit, sebegitukah kita kaum hawa memperdulikan orang yang mungkin tidak pernah tau seberapa rasa ini untuknya
Lelah? Hahahaha pertanyaan bodoh jelas lah kita lelah, mau usaha? Pertanyaan yang tak perlu diragukan, seberapa pun tajamnya rasa ini menyayat tetap saja rindu ya rindu..
Sudahlah hati berhenti menggangu, logika ini hanya ingin di dengarkan sekali saja, walaupun hati pemeran utamanya..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar