"Seandainya ia tau dicintai sampai sebegininya"
Hidup segan mati tak mau, pepatah yang layaknya sangat pantas ditujukan bagi pejuang cinta yang telah berada diujung akhir perjuangannya tetapi masih ingin berjuang, sekali lagi..
Embun pagi membahasi semua bagian dari kota ini, tapi tak sedikit pun aku merasakan dimana kesegarannya, seolah-olah aku hanya seonggok daging yang berjalan di tengah hamparan luas gurun pasir, gersang, panas dan ingin pergi..
Sebegitu kah parahnya patah hati? Sebegitukah parahnya perasaanmu?
Tidak perlu ber andai-andai, "Keinginan move on selalu ada, tapi dia begitu berharga kan?" -Daraprayoga-
Lelah pikiran ini menuruti inginnya hati, apakah hati harus selalu di dengarkan tanpa pikiran yang meminta?
Lagi-lagi pikiran hanya pasrah karena selalu mengalah dengan hati
Apakah hati juga akan mengalah sejenak saja untuk pikiran?
Kamu seolah-olah berjalan kosong tanpa harapan, hampa memang..
Setiap jalan memiliki ujung, mulai saat ini aku harus tau siapa dan dengan cara yang bagaimana aku harus menyambutnya..
Entah dengan perasaan yang seperti ini, atau malah lebih parah..
Aku sebenarnya ingin terus berlari, semakin kuat aku berlari semakin aku terlihat hanya jalan di tempat..
Tidak lagi aku menyukai senyuman orang-orang yang mengasihaniku
Tidak lagi aku menyukai semua orang yang iba kepadaku
Tidak lagi aku menyukai ceritaku membuat mereka turut sedih
Dan tidak ada lagi dia yang berada bukan di belakangku, tapi di sampingku
Seandainya, mencintai seseorang mendapatakan uang..mungkin aku sudah kaya raya dengan mencintaimu sebegininya
Rasanya semua seperti sayuran tanpa garam, hambar.. seolah-olah kita tetap memakannya dengan keadaan nikmat..
Rasanya semua seperti mainan rusak, seolah-olah masih berfungsi dan kita tetap merasa senang akan hal itu
Kupasrahkan kemana dan sampai sebagaimana perasaan ini terus menggrogoti hati kecilku
Akankah sampai aku tidak berperasaan lagi?
Akankah sampai aku tidak tau bagiamana mengasihi orang lagi?
"Mencintai sama dengan mengasah pisau semakin lama kamu mengasahnya semakin dalam perasaan itu, kamu yang mengajarkanku untuk mengasahnya setiap hari, lalu kamu yang membiarkan rasa itu kembali tumpul, dan kehilangan arahnya,Terimakasih kamu"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar